nabi idris

Nabi Idris, Kisah Bijaknya Agar Kita Terus Belajar

Nabi Idris adalah nabi ketiga setelah Nabi Adam dan Nabi Syis dalam Islam, disebut dalam Al-quran sesuai dengan gelarnya sebagai orang yang berpengetahuan tinggi. Dalam kitab perjanjian lama disebut namanya sebagai Enoch atau Henoch (Akhnukh – arab). Mesir kuno menyebut dengan nama Harmas atau Hirmis, sedang Yunani dengan nama Hermes. Bagaimana pelajaran dari kisah bijaknya untuk kita? Simak lebih dalam.

 

Nabi Idris Dan Asal Usulnya

Nabi Idris adalah nabi ketiga setelah Nabi Adam dan Nabi Syis dalam Islam, disebut dalam Al-quran sesuai dengan gelarnya sebagai orang yang berpengetahuan tinggi. Dalam kitab perjanjian lama disebut namanya sebagai Enoch atau Henoch (Akhnukh – arab). Mesir kuno menyebut dengan nama Harmas atau Hirmis, sedang Yunani dengan nama Hermes.
nabi idrisIslam mengenalnya sebagai rosul kedua setelah Nabi Adam. Dalam Quran disebut hanya 2 kali, dalam surah Maryam 56 dan Al-Anbiya 85. Namun kisah-kisah bijaknya banyak dikutip baik oleh ahli ilmu, filsafat ataupun para ulama besar. Karena beliau dianggap dan merupakan ahli ilmu pertama serta orang yang pertama kali menulis dalam qalam.
Beliau adalah orang yang memiliki banyak kepandaian dengan mendalami ilmu-ilmu Nabi Syis dan ilmu-ilmu Nabi Adam kakek-kakek buyutnya. Sehingga dengan ini beliau diangkat oleh Alloh ke tempat atau kedudukan yang lebih tinggi.

Nasab Nabi Idris atau Nabi Akhnukh menurut Al-Maghluts (2008) adalah Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syis bin Adam. Sebagian ahli sejarah mengatakan beliau lahir di dan dibesarkan di Mesir, kota Memphis (Manaf). Sebagian lainnya mengatakan di Babilonia, kawasan Suriah-Irak sekarang, barulah hijrah ke Mesir setelah menjadi nabi/rasul.

nabi idris

Pendapat tentang kelahiran beliau yang kedua diatas, dikuatkan oleh dialog antara Rasululloh dengan Abu Zarr Al-Gifari di Masjid Nabawi dalam hadits riwayat Ibnu Hibban sebagai berikut :
Aku (Abu Zarr) bertanya “Wahai Rasululloh, berapakah jumlah nabi?” Beliau menjawab, “120 ribu.” Aku bertanya kembali, “Dari sekian banyak nabi, berapakah yang juga merupakan rasul?” Beliau menjawab, “313, suatu jumlah yang banyak.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasululloh, siapakah yang paling dahulu diantara mereka?” Beliau menjawab, “Adam.” Aku masih terus bertanya, “Apakah¬† Adam adalah nabi yang juga seorang rasul?” Beliau menjawab, “Betul. Alloh menciptakannya dengan Tangan-Nya, meniupkan kedalam diri Adam roh-Nya, dan mengajaknya berbicara dengan langsung.” Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan, “Wahai Abu Zarr, ada 4 nabi yang berbangsa Suryani (Syria – Babilonia). Mereka adalah Adam, Syis, Akhnukh – dia adalah Idris, orang yang pertama kali menulis qalam, dan Nuh. Lalu ada 4 nabi yang berbangsa Arab. Mereka adalah Hud, Syuaib, Salih, dan nabimu Muhammad SAW.” (Riwayat Ibnu Hibban dalam sahihnya Abu Zarr dengan sanad daif).
Diriwayatkan juga dalam sebuah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, bahwa dalam kisah Isra dan Miraj Rasululloh dan Malaikat Jibril berpapasan dan bertegursapa dengan Nabi Idris dilangit ke empat. Ini juga bisa ditafsirkan diangkatnya beliau dengan tempat dan kedudukan yang tinggi, salah satu karena ilmu beliau dan kecintaan beliau pada kebenaran.

 

Pelajaran Bijak Dari Nabi Idris

Alquran menjelaskan Nabi Idris terbatas pada perintah Alloh kepada Nabi Muhammad agar menceritakan Idris sebagai seorang nabi dan mencintai kebenaran, dan bahwa Alloh mengangkatnya ke “tempat” atau “kedudukan” yang lebih tinggi.
Nabi Idris mewarisi ilmu Nabi Adam dan Nabi Syis, yang keduanya telah diberi suhuf, sehingga Nabi Idris memiliki banyak kepandaian. Beliau pecinta ilmu dan kebenaran. Beliau pelopor dalam bidang ketrampilan dan keilmuan seperti menulis, menjahit, ilmu perbintangan dan ilmu-ilmu lainnya. Arti kata Idris adalah julukan yang berasal dari bahasa Arab “darasa” atau “darisa”, yang berarti belajar. Nama aslinya adalah Akhnukh atau Enoch.

nabi idris astronomi

Pelajaran bijak dari Nabi Idris adalah bahwa manusia dianjurkan untuk selalu belajar, baik dari pengetahuan yang sudah ada (dari suhuf) maupun dari eksplorasi diri sendiri. Eksplorasi ini merupakan pengembangan dari ilmu-ilmu yang sudah dipelajari, seperti ketrampilan menulis, menjahit, astronomi dan lainnya.
Nabi Idris juga dikenal sebagai mufasir pertama dalam sejarah manusia (Yunani : Hermes), objek penafsirannya adalah suhuf Nabi Adam dan Nabi Syis.
Dengan demikian, ada 3 macam pengetahuan (‘ilm) yang perlu dipelajari manusia untuk mendapatkan “tempat” dan “kedudukan” yang lebih tinggi. Yaitu :
  • Imu Naqli (wahyu), ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kerohanian dari pendahulu-pendahulu kita, bisa diartikan sebagai ilmu akhirat.
  • Ilmu Aqli (rasionalitas), ilmu-ilmu yang berhubungan dengan dunia profesional sehari-hari, yang bisa di artikan dengan ilmu duniawi.
  • Ilmu ketrampilan (teknologi dari eksplorasi), ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hal-hal yang sudah kita pelajari terutama ilmu praktis yang berguna bagi kita dan orang lain, agar “adanya” kita lebih bermanfaat bagi masyarakat umum. Poin utama disini adalah berbagi ilmu apa yang kita punya.¬†
Semoga ini semua membuka pola pikir kita akan pentingnya selalu menambah banyak ilmu untuk menaikkan derajat kita. Sukses ya..

Tinggalkan Balasan